Minggu, 19 Februari 2012

“ KISAH DIATAS KURSI RODA “

Pagi ini aku masih terbaring di kamarku. Saat terbangun dari tidurku aku masih berada di kasurku ini, walaupun waktu sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Saat membuka mata ini pun, aku merasa dunia begitu jahat kepadaku. Kenapa aku tidak bisa berjalan lagi. Ya, sudah berbulan-bulan aku menderta kelumpuhan. Awalnya, saat aku mengendarai motor bersama ayahku. Saat aku akan berangkat ke tempat les. Pada saat itu hujan turun dengan lebatnya, lampu motorpun tidak cukup terang untuk melihat ke arah jalan. Tiba-tiba, sebuah mobil menabrakku dari samping. Aku tidak tahu apa-apa. Saat aku terbangun, aku berada di atas ranjang rumah sakit. Hanya ada dokter dan ibuku disitu. Setelah aku diceritakan dan aku mengerti, aku divonis menderita kelumpuhan total pada bagian kaki. Sedangkan ayahku masih tidak sadarkan diri. Tiba-tiba seperti waktu berhenti. Aku sangat kaget dan tidak terima akan keadaan ini. Ibuku sampai menangis mendengarnya.
                Tapi itu masa lalu. Aku mencoba untuk melupakan itu semua. Saat ingin bangun dari tempat tidur saja butuh usaha keras. Mungkin sudah tidak ada harapan lagi.
                “Rin! Ayo bangun! Sudah pagi!” panggil ibuku. “Ya bu” kataku. Lalu ibuku masuk ke dalam kamarku dan membantuku untuk bangun dari tempat tidur. Memang berat rasanya setiap hari harus melakukan kegiatan seperti ini. Tapi aku mencoba untuk tidak mengeluh. Setelah bisa bangun, aku dinaikkan ke kursi roda yang selalu menemaniku kemanapun aku pergi. Aku lalu pergi ke kamar mandi. Berat sekali rasanya untuk mandi sendiri. Namun aku tetap berusaha. Setelah selesai mandi, aku dibantu oleh ibuku memakai seragam. Lalu aku sarapan bersama ibuku. Setelah semua beres, aku lalu pergi ke sekolah. Aku berangkat ke sekolah menggunakan mobil. Ini atas perintah ibuku karena Ia tidak mau kejadian menyedihkan itu kembali terulang. Sesampainya di sekolah, Ibuku membantuku untuk masuk ke kelas. Lalu aku mengikuti pelajaran sepert biasa.
                Pada saat istirahat, aku hanya bisa diam dan hanya bisa melihat sambil membayangkan seandainya aku bisa ikut bermain, berlari-lari di bawah terik sinar matahari yang menyengat, tertawa bersama teman-teman yang lain. Tiba-tiba air mataku menetes. Aku kaget. Lalu cepat-cepat aku mengusap air mataku sebelum ada orang yang tahu. “Tidak! tidak! Aku tidak boleh menangis!, aku tidak boleh menyerah dengan keadaan!” Kataku pada diri sendiri. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundakku. Ternyata itu Tia, teman sekelasku.
                “Hai rin! Apa kabar?”. Sapanya. “Hai juga ti.. Baik.” Jawabku. “Sendirian aja nih? Lagi ngapain?.” “Ini, lagi baca-baca aja buat ulangan nanti.” Jawabku dengan penuh alasan. “Wah ganggu nih.” “Eh! Enggak kok ti.. hehehe.”
                Tak lama setelah itu bel masuk pun berbunyi. Semua anak masuk ke kelasnya masing-masing dan melanjutkan pelajaran. Setelah pelajaran selesai, bel pulang sekolah pun dibunyikan. Ketika semua anak-anak di kelasku bergegas untuk pulang, hanya tinggal aku sendiri di kelas, menunggu untuk dijemput. Saat aku sedang melamun, tiba-tiba Bu guru menyapaku. “Rina? Belum pulang?”, tanyanya. “Belum bu, masih menunggu dijemput.” Jawabku. “Ooh, yasudah.. disini saja ya, jangan kemana-mana, tunggu sampai dijemput.” “Iya bu.” Tak berapa lama Ibuku menjemput.
“Rina, ayo pulang.” Panggil Ibuku sembari masuk ke dalam kelas. Lalu aku dibantu naik ke mobil. Pada saat dalam perjalanan pulang, ibuku berkata, “Rin, kita jenguk nenek dulu yuk.. Sudah lama ibu tidak menengok nenekmu.” “Iya bu, Rina juga sudah kangen sama nenek.” Lalu kami pun berangkat ke rumah sakit tempat nenekku dirawat. Sesampainya di rumah sakit, aku melihat nenekku terbaring lemah. Ia mendera penyakit kanker paru-paru. Aku sangat sedih melihat keadaannya. Setelah berapa lama dan berbincang-bincang dengan saudaraku yang menjaganya, aku dan ibuku pun pulang. Pada saat di koridor rumah sakit, aku melihat suatu ruangan yang membuat aku bertanya-tanya. Aku meminta ibu untuk mengantarkanku masuk ke dalam ruangan itu. Saat masuk ke dalam ruangan itu, sangat terasa sekali aura di dalam ruangan itu. Ruangan itu terasa sangat tenang, damai, dan tenteram. Kulihat semua anak-anak yang ada di ruangan itu. Mereka semua dalam keadaan tidur pulas.
Ada beberapa dokter yang ada di ruangan itu. Tiba-tiba dokter itu menyapaku. “Selamat siang dik.” Katanya. “E..eh.. Selamat siang juga dok.” “Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya. “Ini dok, saya mau tanya, anak-anak ini.. kenapa bisa disini? Mereka sakit apa?.” Dokter itu tampak tersenyum mendengar pertanyaanku. “Jadi begini dik, mereka ini anak-anak yang dari kecil, bahkan dari bayi sudah terkena penyakit akut atau penyakit yang sudah tidak bisa disembuhkan.” Jelasnya. “Lalu dok? Bagaimana nasib anak-anak ini dok?.” Tanyaku dengan penuh rasa penasaran. Dokter itu sedikit menghela nafas, diam sejenak, lalu menjawab pertanyaanku, “Kami sudah berusaha semampu kami dik, kami semua, dokter-dokter di rumah sakit ini sudah berusaha untuk mencoba menyembuhkan penyakit anak-anak ini.” Jawab dokter itu dengan jelas. Seketika badanku merinding. Aku ingin menangis. Lalu aku keluar sebentar, membeli beberapa tangkai mawar. Aku lalu kembali masuk ke ruangan itu.
“Kenapa dik tadi kok langsung keluar?.” Tanya dokter itu padaku. Aku tidak langsung menjawab pertanyaannya. Aku lalu membagikan satu persatu tangkai mawar di atas ranjang anak-anak itu. Setelah selesai aku lalu menjawab pertanyaan dokter itu. “Saya sangat prihatin dengan keadaan anak-anak ini dok, saya tidak sanggup melihat keadaan mereka. Mereka yang masih kecil-kecil ini seharusnya bisa bersenang-senang di luar sana, bukan untuk menanggung beban seberat ini.” Dokter itu tersenyum kecil. “Terima kasih dik. Semoga mereka bisa merasa senang nantinya.” “Iya dok.. semoga anak-anak ini bisa senang nantinya.” Lalu aku keluar ruangan, menemui ibuku yang sudah menungguh lama. Setelah itu aku pulang ke rumah. Di perjalanan, aku kembali memikiran nasib anak-anak yang malang itu. Air mataku kembali menetes. Kini aku sadar, masih banyak anak-anak di dunia ini yang kurang beruntung, dan memerlukan kasih sayang. Seharusnya aku bersyukur akan semua ini. Masih ada orang tua, teman, saudara yang masih mau memberikanku kasih sayang dan perduli kepadaku. Memang seharusnya aku bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan, karena masih ada harapan untukku.

Haha.. itu cuma tugas cerpen B.Indonesia..  Wdyt? :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar